Fokus Pembinaan Putri, Jacksen F. Tiago Tanamkan Fondasi Sepak Bola Sejak Usia Dini

10 February 2026 - Radar Banjarmasin

BANJARMASIN – Kegiatan coaching clinic sepak bola bersama legenda sepak bola Indonesia sekaligus mantan pelatih Timnas Indonesia dan Barito Putera, Jacksen F. Tiago berlangsung di UPIK Minisoccer, Banjarmasin pada 9 sampai 11 Februari 2026.

Program pelatihan ini diikuti oleh seluruh guru SD se-Kota Banjarmasin dan sekitarnya sebagai bagian dari penguatan pembinaan sepak bola usia dini berbasis pendidikan.

Jacksen F. Tiago menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah membantu para pelatih memahami konsep pelatihan P3 dan P5, sekaligus membangun environment yang sehat, aman, dan menyenangkan bagi anak-anak.

“Fokus utama kita membantu teman-teman pelatih memahami konsep pelatihan yang kita terapkan, serta bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat agar anak-anak bisa berkembang, menikmati proses, dan enjoy saat mengikuti kegiatan,” ujar Jacksen, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, persoalan klasik dalam pembinaan usia dini tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga pada stabilitas emosional anak. Ia menilai anak-anak di usia dini cenderung ingin selalu menang dan bahagia, sementara olahraga memiliki realitas menang dan kalah.

“Di usia itu, peran pelatih sering kali bukan hanya sebagai pelatih, tapi juga sebagai ayah dan psikolog. Kita harus punya sensitivitas. Kalau anak berada di lingkungan yang sehat dan nyaman, dia akan berkembang dan mengeluarkan potensi terbaiknya. 

Tapi kalau lingkungan hanya mengejar kemenangan, penuh tekanan, bahkan keras, itu bisa memunculkan rasa minder dan potensi bullying,” jelasnya.

Dalam aspek teknis pembinaan, Jacksen menekankan tiga fondasi utama, yakni kontrol bola, passing, dan pengembangan motorik. Ketiganya dinilai sebagai dasar penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan dasar atlet muda.

“Dalam coaching clinic ini saya fokuskan pada kontrol bola, passing, dan aspek motorik. Anak-anak harus banyak sentuh bola, tapi juga dibarengi pengembangan motorik agar perkembangan mereka seimbang,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perbedaan pendekatan dalam melatih atlet putra dan putri, terutama dari sisi emosional. Menurutnya, atlet perempuan memiliki sensitivitas emosional yang lebih tinggi sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih bijak, seimbang, dan terukur.

“Pendekatan emosional itu harus seimbang. Tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh terlalu jauh. Kita harus sangat bijak agar tidak terjadi salah persepsi dan tetap menjaga kenyamanan emosional mereka,” katanya.

Terkait pengembangan sepak bola putri di Kalimantan, Jacksen mengaku hingga saat ini tidak menemui kendala berarti. Dukungan orang tua dan respons positif dari lingkungan menjadi faktor utama kelancaran program.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya dapat dukungan orang tua dan respons yang sangat positif. Tidak ada keluhan berarti, semua berjalan dengan baik,” ujarnya. 

Ia juga menyampaikan harapannya agar pembinaan sepak bola putri di Indonesia dilakukan secara inklusif, berorientasi pada kenyamanan anak, dan membangun kecintaan terhadap olahraga sejak dini.

“Sepak bola putri masih dalam tahap pengembangan. Kita harus membuat anak-anak nyaman, menikmati proses, dan membangun passion mereka terhadap sepak bola. Bukan menuntut mereka langsung seperti pemain top nasional,” tegasnya.

Kehadiran Jacksen di Banjarmasin kali ini pun memiliki makna berbeda. Ia tidak datang sebagai pelatih klub, melainkan sebagai bagian dari upaya pencarian dan pembinaan bibit atlet masa depan sepak bola Indonesia.

“Saya senang bisa kembali ke sini, bersilaturahmi, dan saya yakin di Banjarmasin banyak bakat yang belum tergali. Ini kesempatan besar memberi anak-anak hiburan yang sehat, kegiatan positif, dan peluang masa depan mereka, baik secara sosial maupun olahraga,” tuturnya.

Sementara itu, pelatih lokal Banjarmasin Indra Syafruddin menyebut kegiatan ini sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi pembina sepak bola daerah.

“Ini pengalaman dan penghargaan yang luar biasa bagi kami pembina sepak bola di daerah. Apalagi output kegiatan ini bisa sampai ke Timnas Putri. Keseriusan penyelenggara harus didukung oleh keseriusan pembina di daerah yang diberi kepercayaan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi dedikasi Jacksen F. Tiago dalam memajukan sepak bola Indonesia, khususnya sepak bola putri.

“Saya pribadi sangat salut dengan dedikasi Coach Jacksen. Dari pengalaman beliau di sepak bola putra, banyak hal yang bisa ditularkan untuk kemajuan sepak bola putri. Walaupun bukan orang Indonesia asli, dedikasi beliau untuk kemajuan sepak bola Indonesia, khususnya dari daerah menuju nasional, itu luar biasa dan patut diapresiasi,” katanya.

Pelatihan ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pembinaan sepak bola usia dini yang sehat, berkelanjutan, serta berorientasi pada pengembangan karakter, mental, dan potensi anak-anak di Kota Banjarmasin dan sekitarnya.